Buku ketiga Akiyoshi Rikako-sensei yang saya baca (meski
saya belum menyelesaikan “The Dead Returns” dan malah lompat ke buku ini sih)!
Selalu menantikan karya-karya beliau karena selalu berhubungan dengan
pembunuhan! Favorite crimes!
Awalnya saya pikir buku ini akan menyelipkan unsur
Kristiani, berhubung judulnya yang berbau Holy. Namun rupanya saya salah terka.
Meski demikian, titik berat cerita memang ada pada sosok ibuㅡHonami.
Tentunya juga dibumbui dengan tema kriminalitas yang sedap!
Penokohan di buku ini tidak banyak berbeda dengan buku-buku
Akiyoshi-sensei yang lain. Penuh misteri dan sarat dengan ‘kegilaan’. Jadi saat
membaca, saya benar-benar nggak bisa berhenti karena ingin tahu dan menguak
misteri dari masing-masing tokoh yang ada di dalamnya.
Selain Honami, ada beberapa tokoh lain yang menjadi sorotan
dalam buku ini. Pertama, ada siswa SMU bernama Tanaka Makoto dan dua orang
detektif, Sakaguchi dan Tanizaki. Salah satu tokoh benaran bikin saya cengo
lho, naisss!!
Dan dengan sudut pandang orang ketiga sebagai penutur
cerita, membaca buku ini jadi makin asik! Apalagi part cerita milik si
pembunuh. Apa ya? Jadi semacam memahami perasaan membunuh dan alasan
dibaliknya. The odd thing is somehow I’m in the culprit’s side all the time I’ve
read this book hahaha~ Dan bukan Akiyoshi Rikako-sensei kalau nggak doyan kasih
plot-twist kayanya. Lagi-lagi tebakan saya meleset saat menebak…..ah, sudahlah,
nanti spoiler 😀
Lagi-lagi mirip dengan kedua buku Akiyoshi-sensei yang lain,
“Holy Mother” menggunakan alur maju-mundur. Kadang pas flashback saya agak
gemes juga karena ingin cepat-cepat tahu bagaimana pembunuhnya ketahuan.
Untungnya bisa sabar dan tidak main curang dengan baca lompat-lompat hahaha~
Lalu selain plot-twist, saya pikir keunggulan buku ini ada
pada beberapa info dan ilmu yang dibagikan. Seperti tentang perawatan
kemandulan yang dialami Honami, penjelasan tentang senyawa kimia, dan analisis
kriminal. Jadi tidak hanya menikmati cerita, saya pun juga dapat hal-hal baru
untuk diketahui.
Dan kesemuanya ini bisa dinikmati dengan sangat baik berkat
tim penerjemah Penerbit Haru yang selalu jempolan. Rasanya saya belum pernahㅡdan
semoga tidak akan pernahㅡdikecewakan oleh hasil
terjemahannya. Selalu asik dan serasa seperti tidak baca buku terjemahan. Kece
lah~
Membaca “Holy Mother”, saya makin sadar kalau seorang ibu
benar-benar bisa dan akan melakukan apapun untuk menjaga kedamaian keluarga,
terutama jika menyangkut anak-anak. Meski saya tidak bisa membenarkan seratus
persen semua tindakan yang ada di dalam buku, saya semacam yakin di luar sana
mungkin ada ibu yang benar-benar bersedia menjadi sosok paling buruk sekalipun
untuk melindungi anak-anaknya.
